Beranda > Berita dan Informasi > Menghitung Sisa Nyawa 'SiRaja Hutan' Harimau

Menghitung Sisa Nyawa 'SiRaja Hutan' Harimau

59896_harimau_sumatera_140_105.jpg
Populasi Harimau
terus menyusut, hewan ini
bahkan nyaris punah. Jumlah
Harimau saat ini adalah yang
terendah sejak tahun 1900.
Ilmuwan memperingatkan,
tindakan penyelamatan darurat
untuk dilakukan. Jika tidak,
generasi mendatang hanya
akan mengenal spesies hewan
buas ini dari museum atau
bahkan melihat gambarnya di
buku atau film.

Organisasi penyelamatan
satwa langka, World Wildlife
Fund (WWF) Sabtu lalu
mengumumkan, populasi
Harimau tinggal 3.200, jauh
lebih kecil dari sebad lalu yakni
100.000 spesies.
WWF menyerukan pada
negara-negara yang masih
punya Harimau, seperti China,
India, Indonesia, dan
Bangladesh — memenuhi
komitmen untuk
menyelamatkan sekaligus
menambah hewan itu mereka
dua kali lipat pada 2022.
WWF juga mendesak
penduduk Inggris untuk
melakukan tekanan
internasional dengan
menandatangani petisi online
yang berisi sikap ‘tidak mau
hidup di dunia tanpa Harimau’.
“Tanpa adanya aksi global, kita
dalam kondisi bahaya–
terancam kehilangan spesies
Harimau selamanya, terutama
di beberapa bagian Asia,” kata
Diane Walkington, dari WWF,
seperti dimuat laman Redorbit.
“Jika kehilangan Harimau, kita
tak hanya kehilangan predator
teratas di dunia, kita akan
banyak mengalami kehilangan,”
tambah dia.
Kampanye perlindungan
Harimau bertepatan dengan
Tahun Harimau dalam kalender
China, yang jatuh pada 2010
dan 2022.
Saat ini delegasi dari 13 negara
sedang berkumpul di Bali untuk
membahas rencana menambah
populasi Harimau. Sementara,
pertemuan internasional akan
dilaksanakan September 2010
di St Petersburg.
Spesies Harimau menyebar
hampir di semua negara Asia,
termasuk Turki dan Iran.
Namun, nafsu manusia untuk
memiliki bulunya yang tebal
dan memakan dagingnya,
membuatnya sasaran empuk
para pemburu.
Di Indonesia, jumlah harimau Sumatera yang asli Indonesia tinggal sekitar 400 ekor. Harimau Jawa terakhir yang dimiliki Indonesia dikabarkan ditembak mati oleh mantan Presiden Soeharto di awal masa kekuasaannya selama 32 tahun. Sedangkan harimau Bali sudah musnah di pertengahan abad 20. Siapa yang salah? Menurut organisasi perlindungan hewan, World Wildlife Fund (WWF) mengatakan perusakan hutan adalah akar dari permasalahan. Harimau yang terganggu habitatnya mengalami krisis dan marah. Data WWF, sebanyak 12 juta hektar, atau separuhnya, hutan di Sumatera musnah dalam kurun waktu 22 tahun. Hal yang sama juga dirasakan harimau sumatera dan orang utan di Kalimantan. Mereka adalah korban dari nafsu manusia menjarah hutan dan mengubah hutan menjadi ladang kelapa sawit. Akibatnya fatal, juga untuk manusia. Harimau mulai menyerang manusia. Padahal, dalam keadaan normal, Harimau Sumatera menjauhi manusia. Kalaupun mereka membunuh manusia, Harimau tak akan menyentuh jasadnya. Insiden Harimau memangsa manusia, adalah pertanda. Para Harimau mengalami depresi dan lapar. “Mereka tak punya tempat lagi untuk hidup,” kata staf badan konservasi Nurazman Nurdin

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: